Obrolan Dengan Teman Lama

Barusan saya mendapat telepon dari teman lama. Seperti biasa kami saling bertanya kabar. Setelah itu dilanjutkan dengan membicarakan hal-hal mengenai kehidupan. Si teman bilang kalau  untuk sekarang istri harus bekerja, karena itu adalah tuntutan zaman. Lalu saya menimpali, istri tidak harus bekerja. Kalau bekerja pun sebaiknya melakukan pekerjaan di rumah. Si teman berkeras kalau istri harus bekerja diluar, menghasilkan sejumlah uang untuk membantu perekonomian keluarga, karena segala sesuatu dizaman sekarang ini membutuhkan uang. Bagaimana mungkin kalau suami saja yang bekerja dengan penghasilan yang pas-pasan harus menghidupi istri dan anaknya, otomatis istri harus bekerja. Apa kamu tidak ingin melihat anak dan istrimu seperti anak-anak lain yang memiliki mainan, baju baru, sepatu baru. Bagaimana mungkin anakmu menjadi cerdas sedangkan anakmu tidak diberi acupan gizi yang cukup. Teman ini terus bercerita tanpa memberikan kesempatan kepada saya untuk menjelaskan apa yang sudah saya katakan. Ia terus berbicara dan ketika dia ada sedikit jeda, saya bilang, bagaimana mungkin saya bisa menjelaskan maksud saya apabila saya tidak diberi kesempatan untuk berbicara, bagaimana mungkin komunikasi terjalin jika antara dua orang  yang berbicara tidak memberikan kesempatan kepada lawan bicaranya untuk menyampaikan pendapat. Si teman kembali mengulang lagi bahwa tidak bisa suami saja yang kerja, istri juga harus bekerja tanpa menghiraukan perkataan saya. Saya kembali berujar, maksudnya begini istri tidak harus bekerja di…. si teman langung memotong dan setelah itu teman saya mulai agak emosi, saya hanya bisa tertawa mendengarkan teman saya ini, akhirnya dia diam, dan saya mengambil kesempatan ini untuk berbicara. Baru 2 kalimat saya berbicara, teman saya ini sudah tidak berminat untuk mendengarkan saya. Ia akhirnya menutup pembicaraan dan saya belum sempat menjelaskan pendapat saya.

Setelah pembicaraan terputus, saya hanya tersenyum.

Baiklah saya akan menjelaskan maksud dari pendapat saya. Semoga saja teman saya membaca tulisan ini.

Maksud saya adalah, suami adalah kepala rumah tangga yang bertanggung jawab atas semua anggota didalam keluarganya. Walaupun penghasilan suami tidak begitu besar atau bisa dibilang pas-pasan dengan catatan si suami telah bekerja maksimal maka yang harus dilakukan adalah mensyukuri segala yang ada dengan tetap berusaha. Salah satu cara untuk membentengi diri agar tidak menjadi putus asa karena masalah ekonomi adalah, tanamkan lah rasa syukur, sabar, jujur dan ceria di dalam keluarga. Ketika semua rasa ini tertanam didalam keluarga, insyaallah semua nya akan terlewati dengan hati lapang dan tenang. Ketika kita telah berusaha dan berserah diri kepada Allah dan ikhlas menjalani segala ketentuan allah, saya yakin Allah akan memberikan cara lain untuk menjadikan setiap moment dalam hidup mejadi berharga dan penuh makna.

Mangenai perkataan teman saya yang ”apa kamu tidak ingin melihat anak dan istrimu seperti anak-anak lain yang memiliki mainan, baju baru, sepatu baru”

Setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Jika siayah telah berusaha maksimal tapi masih belum bisa membelikan baju baru, sepatu baru serta memberikan asupan gizi tambahan, apa yang harus dilakukan? Kembali lagi, yang utama sekali adalah menerapkan konsep berkeluarga secara syariah islam dalam keluarga serta menanamkan rasa syukur, sabar, jujur dan ceria pada setiap anggota keluarga. Saya yakin anak-anak akan mengerti dengan keadaan  orang tuanya. Berikanlah pengertian yang bijak dengan mengatakan keadaan keluarga yang sebenarnya tanpa memberikan janji-janji manis yang tidak mungkin kita berikan. Contohnya jika kita mampu membelikan sebuah celana baru hanya pada saat lebaran, jelaskan kepada anak bahwa celana baru hanya akan dibelikan pada saat lebaran karena ayah tidak memiliki uang, untuk saat ini ayah sedang menabung untuk membeli celana baru pada saat lebaran. Insyaallah kita merayakan lebaran dengan celana baru. Ingat, penjelasan tidak boleh mengiming-imingi dengan hal-hal yang tidak mampu kita berikan. Namun apabila kita bisa memberikan segala sesuatu kepada anak dan istri, lakukanlah sewajarnya. Bentuklah karakter hidup sederhana terhadap anak.

Selanjutnya, istri boleh bekerja. Tapi tidak diluar. Banyak cara yang dilakukan untuk menghasilkan uang tanpa istri harus keluar rumah. Istri bisa saja berbisnis secara on-line, menulis, membuat kue ataupun masih banyak cara lainnya. Cukup disesuaikan dengan kemampuan dan bakat istri kita. Istri dirumah bukan berarti mematikan karakter istri. Seorang suami harus mengerti apa yang disukai dan mengenali talenta apa yang dimiliki istri sehingga istri bisa mengembangkannya dirumah. Misalnya istri memiliki bakat dalam menulis, suami harus memberikan dorongan, masukan serta dukungan yang penuh kepada istri untuk menghasilkan suatu karya tulis yang bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s