Tarakan Mencekam

Tanggal 26 september 2010 kemaren saya pergi dinas keluar kota. Kebetulan ada tugas di sebuah anak perusahaan di Kalimantan timur. Dari Pekanbaru saya berangkat dengan seorang rekan kerja. Kami sama-sama belum pernah berkunjung ke Tarakan. Yang kami tahu disana banyak kepiting yang enak. Lumayan bisa kerja sambil jalan-jalan.

Awal dapat informasi untuk ditugaskan ke tarakan, saya udah aga males. Kenapa? Karena saya baru saja menikah (sekitar 3 bulan). Walaupun waktu itu masih tinggal berjauhan dengan istri tersayang, namun pergi keluar kota dengan jarak yang termasuk jauh membuat saya enggan untuk menunaikan tugas ini. Tapi apa daya, karena ini adalah resiko pekerjaan saya, saya tetap harus pergi.

Perjalanan dari pekanbaru hingga ke tarakan bisa dibilang lancar. Hanya ada sedikit keterlambatan pada saat dari pekanbaru ke jakarta. Nyampe di tarakan sekitar jam 10 malam WITA. Kebetulan penginapan dan akomodasi lainnya telah disiapkan oleh rekan kerja yang sudah duluan nyampe tarakan. Dari bandara Juwata kita langsung ke menuju ke penginapan yaitu hotel tarakan plaza. Semua berjalan lancar hingga kita nyampe di hotel.

Besoknya setelah sarapan, kami yang dari pekanbaru team ditambanh dengan team yang sebelumnya sudah stand by sebanyak 2 orang berangkat ke kantor perwakilan perusahaan yang ada di tarakan ini. Sebelum nyampe kantor, kita sesama team saling bertanya kepada supir yang menjemput. Sang supirpun menjawab ”tadi malam ada bentrokan Pak. Bentrokan terjadi tengah malam. Suku bugis dan suku penduduk asli (suku tidung) lagi ada perseteruan. Permasalahannya ga terlalu jelas, Cuma tadi malam ada salah satu rumah suku tidung dibakar”. Mendengar penjelasan dari Pak supir, sontak kamipun terkejut dan langsung diam. Mungkin dalam pikiran kami masing-masing sudah langsung dihantui oleh rasa cemas. Namun tak satupun dari kami yang mengucapkannya.

Aku sendiri berusaha tidak menampakkan rasa cemas, aku mencoba untuk tenang dan berdoa agar selalu mendapat perlindungan dari Allah. Aku langsung ingat kejadian kerusuhan yang pernah terjadi di Sambas, walaupun hanya menonton di televisi namun peristiwa tersebut masih teringat, betapa kerusuhan tersebut sangat mencekam. Tidak saja kerusakan infrastruktur, korban jiwapun tak luput dari kerusuhan yang terjadi di Sambas tersebut.

Sesampe di kantor, rekan kerja disana menceritakan lebih detail permasalahan yang sedang terjadi. Bapak pimpinan nya bilang bahwa kerusuhan ini belum berada di puncaknya. Dia mendapat kabar bahwa nanti malam akan ada lagi pertempuran antara kedua suku yang berlawanan. Dia pun memutuskan untuk meliburkan kegiatan di kantor hingga situasi kembali kondusif. Untuk hari itupun, karyawan sudah dibolehkan pulang sebelum makan siang. Mendengar berita tersebut, kami semakin cemas, 2 dari temanku sudah gelisah namun aku berusaha untuk tetap tenang agar situasi tidak bertambah mencekam. Kami pun kembali menuju penginapan sebelum makan siang.

Di perjalanan pulang, jalanan benar-benar sepi, tidak ada kendaraan yang berlalu lalang, hanya tampak beberapa petugas keamanan yang sedang berpatroli dijalanan. Kami juga melihat beberapa staff media stasiun televisi yang khusus menyiarkan berita-berita sedang mengambil liputan kondisi terkini dari kota tarakan ini.

Sesampai di hotel, kita disarankan tidak kemana-mana. Si bapak pimpinan yang juga ikut mengantarkan kita ke hotel bilang kalo dia akan meng-update perkembangan apa saja mengenai kerusuhan ini ke kita. Kami pun meng-iyakan. Kami langsung ke kamar dan hanya mengamati perkembangan melalui berita di stasiun televisi.

Ternyata pada malam harinya kondisi semakin memanas, kedua kubu yang bersiteru ternyata sama-sama tidak mau bersepakat untuk damai. Dari info yang didapat oleh si bapak pimpinan, nanti malam akan ada pertempuran antara dua kubu tersebut. Kemungkinan pertempuran tersebut akan terjadi di sekitar hotel tempat kami menginap. Si bapak meyakinkan kami bahwa kita akan aman jika selalu di dalam hotel. Karena beberapa pihak yang akan mengamankan dan mendamaikan juga menginap di hotel yang sama dengan kita. Walaupun bagaimanapun kata si Bapak, kita semakin cemas, kita berusaha untuk mendapatkan ticket untuk balik ke balik papan besoknya, namun usaha kita tidak membuahkan hasil. Kita baru bisa keluar kota ini lusanya. Berarti masih akan ada 1 malam lagi.

Aku menghubungi istri tersayang, aku menceritakan kejadian di kota ini, istri tersayang pun selalu mendoakan agar aku selalu diberi perlindungan dan keselamatan oleh Allah. Selain itu orang tua pun juga aku kabari, mereka semua mendoakan agar aku diberi keselamatan. Suasana hati menjadi jauh lebih tenang setelah berbicara dengan istri tersayang dan orang tua.

Dan memang benar, malam itu adalah puncak dari persiteruan ini, kedua suku saling menyerang pada saat tengah malam, dan kejadiannya tidak jauh dari tempat kami menginap. Kedua suku beradu senjata 50 meter dari depan hotel, karena ternyata pusat perkumpulan suku tidung tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Kalau saya tidak salah, 3 orang dikabarkan meninggal pada malam itu. Sungguh mencekam.

Paginya, pada saat kita hendak sarapan, salah satu teman mencoba melihat dari lobi hotel kebagian luar, dia melihat beberapa petugas sedang mengangkat jenazah korban perseteruan yang terjadi tadi malam. Lobi hotel pun dipenuhi oleh pejabat pemerintah dan aparat keamanan. Katanya hari ini akan diadakan perundingan antara kedua pemuka adat dari kedua suku tersebut dengan pemerintah serta aparat kemanan di hotel ini. Dan memang, sekitar jam 10.00 perundingan pun dimulai. Akupun melihat dari jauh. Media televisi terlihat meliput jalannya perundingan tersebut. Kata sepakat pun tercetus pada tengah hari. Kedua pihak setuju untuk saling damai, namun aku tidak mengetahui isi dari perundingan tersebut.

Kami benar-benar tidak keluar hotel seharian. Walaupun situasi sudah mulai terkendali, kami tetap memutuskan untuk kembali ke balik papan besok. Kami sudah tidak sabar untuk bisa keluar dari kota ini. Dan besoknya, tepat jam 8.00 kita check out dari hotel, kita langsung menuju bandara. Jalanan pun sudah mulai dilewati oleh beberapa kendaraan. Perasaan lega langsung terasa ketika kita sudah berada di bandara juwata. Alhamdulillah, kita selamat tanpa ada terluka sedikitpun. Aku sangat bersyukur Allah melindungiku. Puji dan syukur selalu terucap kehadirat Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s